Sabtu, 16 Maret 2013
Jumat, 01 Februari 2013
ARTIKEL
Era Globalisasi
dan Pendidikan Islam
Oleh. Sya’rani
Era globalisasi bagaikan mesin
penghancur baja yang lajunya seolah-olah tidak terbendung oleh apapun.
Ketakutan di beberapa kalangan mewarnai beberapa media cetak dan elektronik.
Berbagai alasan keluar dari benak mereka dengan satu tujuan menghambat laju
perkembangan era globalisasi. Hal ini telah muncul sebelum alat-alat modern dan
canggih menjadi teman akrab dan tetangga dekat kita sebagai bangsa yang sedang
berkembang.
Ketakutan para pakar termasuk pakar
pendidikan islam dan pesantren bukan tidak beralasan. Mereka secara bersamaan
mencemaskan pendidikan dan ahlak para generasi bangsa ini kedepan. Bagaimana
bangsa ini sepuluh tahun kedepan?. Pola fakir, tingkah laku, agama dan adat
mereka akan bercampur aduk sehingga kultur dan identitas bangsa akan jauh
bergeser dari kemurniannya.
Saat ini era yang bagai mumuk bagi
para praktisi pendidikan Islam benar-benar menjadi kenyataan. Seolah-olah dunia
yang luas ini tidak menjadikan hambatan berarti untuk berkomokasi dengan baik.
Sebelum media elektronika mengimformasikan perbuatan mesum seorang artis
ternama, para generasi muda telah dengan mudah men don lout lewat internet. Itupun dapat disaksikan dengan gambar yang
bergerak dalam bentuk video. Jangankan gambar bergerak gambar diam saja jika berupa gambar seorang wanita setengah
telanjang akan memancing gejolak syahwat para generasi muda. Apalagi bergerak
dan memperlihatkan perhelatan mereka dalam menikmati perbuatannya. Maka akan
memancing libido kebinatangan menjadi bertambah buas. Sehigga akal sehat tidak
akan berfungsi dengan baik.
Pendidikan Islam adalah pendidikan
tertua di Nusantara ini. Sebab pendidikan ini merupakan pengembangan dari
pondok pesantren yang telah berdiri sejak sebelum belanda datang kenegeri ini
untuk menjajah. Bersama perjalanannya yang sangat panjang mengabdikan diri
untuk iman dan kecerdasan bangsa tidak terlepas dari berbagai ancama, tekanan
dan hambatan. Akan tetapi hingga saat ini tetap exis berdiri ditengah-tengah
bangsa melalui berbagai zaman.
Pada zaman Jepang para guru swasta
sebelum bisa mengajar di madrasah harus mendapat ijin dulu dari pemerintah. Hal
ini dimaksudkan agar guru pengajar madrasah itu tidak menyebarkan bibit-bibit
kebencian kepada pemerintah penjajah untuk melanggengkan kekuasaanya di negara
ini.Bahkan kalau bisa mereka para guru madrasah akan dibuat alat untuk
mengabadikan kekuasaan. Untuk mengalihkan simpati masyarakat kepada madrasah
berbagai slogan dilontarkan baik melaui media dan seniman. “ Santri kotor dan
terbelakang” itulah slogan mereka. Bahkan ada seorang penyair zaman itu menulis
puisi yang pada salah satu baitnya menaruh kata”gigi santri bau karena tidak
pernah disikat.
Begitulah tantangan dan tekanan yang
dialami madrasah menyertai keberadaannya. Dari masa kemasa tidak pernah
terlepas dari hambatan. Di zaman orde baru kita kenal dengan adanya dikotomi
kebijakan antara sekolah sebagai peninggalan belanda dan madrasah sebagai
penjelmaan pesantren. Pada saat itu madrasah diperlakukan setengah hati oleh
pemerintah. Pemerintah tidak menghendaki pendidikan islam sebagai lembaga
pribumi berkembang menyaingi format pendidikan asing. Sebuah keberhasilan yang
diraih pendidikan islam saat ini dengan adanya Surat Keputusan Tiga Mentri
yaitu mentri dalam negri, mentri agama dan mentri pendidikan. Dengan surat
keputusan tersebut maka pengakuan tehadap pendidikan islam semakin baik. Kalau
dulu lulusan madrasah hanya bisa melanjutkan ke jenjang madrasah selanjutnya
dan lulusannya sulit mendapat pekerjaan.. Mulai saat itu lulusan madrasah bisa
melajutkan ke sekolah.
Sampai saat ini hambatan dan
tantangan pendidikan islam masih tetap terasa. Sebab menurut perinbangan
pemerataan pendidikan jumlah Sekolah
Dasar Negri di setiap desa di kabupaten Sumenep minimal dua. Sedangkan jumlah
Madrasah Ibtidaiyah Negri sekabupaten Sumenep hanya tiga. Yakni min Tarate, MIN
Tanjung dan Min Kolor.Untuk mengimbangi kekurangan itu sejak dulu banyak
bermunculan madrasah-madrasah swasta sehingga hampir menyamai jumlah Sekolah
Dasar yang ada di Kabupaten Sumnep. Walaupun demikian tenaga edukasinya masih
di bawah standar. Sebab utamanya di madrasah-madrasah ibtidaiyah swasta guru
negrinya sangat sedikit. Kebanyakan dari
para pengajar di madrasah adalah para santri yang ingin mengamalkan ilmunya
dengan suka rela. Tentunya metode penyampaiannya sambil mencari di tengah
jalan. Mungkin karena terdorong oleh rasa ikhlash yang mendalam meskipun dengan
tegnik yang sangat sederhana bisa juga menghasilkan ilmuwan-ilmuwan tangguh.
Tapi hingga saat ini madrasah terus berbenah diri. Para tenaga eduksinya terus
ditingkatkan dengan meningkatkan pendidikan mereka. Sehingga akhirnya banyak
tenaga edukasi di madrasah yang menyandang gelar S1.
Alahamdulillah saat ini dengan bergulirnya
zaman dari orde baru ke reformasi perhatian pemerintah terhadap lembaga lebih
meningkat. Salah satunya ada dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) atau Dana
Bantuan Operasional Madrasah (BOM). Walaupun bantuan BOS/BOM itu masih
disamaratakan baik Sekolah dan madrasah. Penyamarataan itu masih belum berarti
rata. Sebab bantuan yang sama pada semua lembaga berakibat tidak rata jika
tidak mempertimbangkan kondisi dan situasi yang melatar belakangi suatu
lembaga. Sekolah yang rata-rata didirikan oleh Negara dengan tenaga edukasi yang
lebih sehat jika mendapat bantuan yang sama dengan madrasah akan setingkat
lebih gemuk dibandingkan dengan madrasah yang baik sarana dan tenaga edukasinya
masih suka rela.
Ketika era globalisasi menggaung
maka sekolah lebih siap menyambut kedatangannya dibanding dengan madrasah yang
masih terlihat berdiri agak kaku menatap masa depan. Sebab dari nominal bantuan
yang diterima itu masih harus dipergunakan untuk memikirkan kesejahteraan para
tenaga edukasinya. Masih untung jika kesejahteraan mereka ada dana pengimbang,
walaupun syaratnya sangat elit sebab mereka harus mengisi fortopolio yang
sangat rumit dengan segala macam perasyarat lainnya.
Satu sisi era globalisasi menjadi
tantangan berat buat madrasah. Sebab 1. penguasaan untuk mengoprasikan
barang-barang hasil tehnologi canggih itu merupakan tuntutan zaman. .Mau tidak
mau madrasah harus mendatangkan tegnisi atau mengikutsertakan tenaga edukasinya
untuk ikut pelatihan sekaligus membeli alat-alat baru yang mahalnya bukan main.
Sementara kekayaan lembaga yang ada
masih terbatas karena masih harus memikirkan kesejahteraan para gurunya. 2.
Sementara zaman terus melaju tanpa memperhatikan situasi tempat yang akan
dilaluinya. Sehingga tanpa bisa dicegah warnet telah berdiri menjamur di
mana-mana. Mereka menawarkan jasa axess dengan anika berita yang menarik dengan
bebas ruang dan waktu. 3 Karena masyarakat sudah menjadi konsument internet
maka otomatis para siswa madrasah dan sekolah juga termasuk dalam bagiannya.
Sehingga mereka para siswa lebih tahu ketimbang gurunya mengoperasikan dan
mengakses informasi dari internet. 4. Masadrasah dengan keterbatasannya masih
belum mampu mempersiapkan media internet kepada para siswanya. Maka para siswa
akan kurang tertarik kepada format pembelajaran yang disuguhkan di madrasah.
Karena menurut pandangan mereka bentuknya kurang menarik. Sehingga pelajaran
keagamaan tidak menjadi idola lagi bagi mereka. Karena jiwa dan fikiran mereka
sudah teracuni oleh materialisme dan gambar juga tayangan menarik yang mereka
nikmati dalam internet. Maka cerita para tokoh islam yang biasanya ampuh
membentuk karakter para siswa, saat ini sudah berkurang kekeramatannya. 5 Karena para penawar jasa
bidang internet adalah mereka para pebisnis maka yang menjadi visi dan misi
utamanya adalah komersial bukan malah membantu keterbelakangan pendidikan.
Dengan demikian maka moral dan pendidikan anak-anak madarasah tidak akan
menjadi pertimbangan. Otomatis tidak ada kontrol bagi para siswa untuk membuka
dan mengakses atau mendonlout permainan dan informasi yang tidak layak bagi
usianya. Maka hal ini akan sangat membahayakan terhadap jiwanya yang pada
gilirannya nanti akan menggerogoti imannya. Juga akan mempengaruhi fikiran
mereka tentang nilai-nilai agama dan sosial.
Di sisi yang lain masyarakat memang membutuhkan
alat canggih tersebut untuk lebih cepatnya transfer informasi. Dengan hadirnya
alat alat baru super canggih ini maka satu tingkat kebudayaan manusia semakin
meningkat. Sebab para manusia penghuni dunia ini sudah nyaris tidak terhalang
oleh lamanya waktu dan jauhnya jarak. Dengan adanya hand phone saja famili yang
jauh menjadi dekat. Mereka bisa berintraksi kapan saja mereka mau dengan biaya
yang sangat murah.
Termasuk dalam
dunia pendidikan kehadiran media cerdas dan canggih ini memang sangat menjadi
kebutuhan. Sebab para guru tidak lagi sibuk mencari buku pegangan ke
perpustakaan. Dengan membawa buku sedimikian tebal dan berat. Sementara jika
membawa lap top hanya dengan satu tas agak kecil sudah mampu mengusung ribuan
perpustakaan local dan interlokal. Subhanallah .! memang maha suci dzat sang
maha pencipta yang sampai saat ini terus memberikan ketekunan kepada para
manusia untuk terus berusaha mencari kemudahan-kemudahan hidup. Madrasah tidak
boleh hanya memandang bahwa globalisasi sebagai perusak iman generasi muda.
Akan tetapi juga harus memandang bahwa untuk kecerdsan ummat madrasah juga
harus menganggap bahwa kehadiran globalisasi adalah hal yang harus dihadapi
secara jantan. Tentunya dengan daya saring yang sangat tinggi. Disamping membekali
para siswa dengan iman dan akhlakul karimah. Untuk itu para guru dan kepala
madrasah menjadi tertuntut untuk lebih kreative lagi mengemas pembelajaran
agama agar lebih menarik dari pada sebelumnya. Sehingga materi agama tetap
menjadi idola para siswa juga tetap mampu mengoperasikan alat-alat canggih
untuk mempermudah hajatnya. Di sini para praktisi pendidikan madrasah diharap lebih piawai mengemas
pembelajaran agama dengan tehnologi canggih.
Pertanyaannya adalah mampukah madrasah menkolaborasikan dua
hal ini menjadi sinergifitas yang menghasilkan format baru dengan nilai jual
yang tinggi ?. Atau malah mencabut subtansi pendirian (ruh) madrasah sehingga
madrasah kehilangan identitas di
Langganan:
Komentar (Atom)
