Jumat, 01 Februari 2013

ARTIKEL


Era Globalisasi dan Pendidikan Islam
Oleh. Sya’rani
            Era globalisasi bagaikan mesin penghancur baja yang lajunya seolah-olah tidak terbendung oleh apapun. Ketakutan di beberapa kalangan mewarnai beberapa media cetak dan elektronik. Berbagai alasan keluar dari benak mereka dengan satu tujuan menghambat laju perkembangan era globalisasi. Hal ini telah muncul sebelum alat-alat modern dan canggih menjadi teman akrab dan tetangga dekat kita sebagai bangsa yang sedang berkembang.
            Ketakutan para pakar termasuk pakar pendidikan islam dan pesantren bukan tidak beralasan. Mereka secara bersamaan mencemaskan pendidikan dan ahlak para generasi bangsa ini kedepan. Bagaimana bangsa ini sepuluh tahun kedepan?. Pola fakir, tingkah laku, agama dan adat mereka akan bercampur aduk sehingga kultur dan identitas bangsa akan jauh bergeser dari kemurniannya.
            Saat ini era yang bagai mumuk bagi para praktisi pendidikan Islam benar-benar menjadi kenyataan. Seolah-olah dunia yang luas ini tidak menjadikan hambatan berarti untuk berkomokasi dengan baik. Sebelum media elektronika mengimformasikan perbuatan mesum seorang artis ternama, para generasi muda telah dengan mudah men don lout lewat internet. Itupun dapat disaksikan dengan gambar yang bergerak dalam bentuk video. Jangankan gambar bergerak gambar diam saja  jika berupa gambar seorang wanita setengah telanjang akan memancing gejolak syahwat para generasi muda. Apalagi bergerak dan memperlihatkan perhelatan mereka dalam menikmati perbuatannya. Maka akan memancing libido kebinatangan menjadi bertambah buas. Sehigga akal sehat tidak akan berfungsi dengan baik.
            Pendidikan Islam adalah pendidikan tertua di Nusantara ini. Sebab pendidikan ini merupakan pengembangan dari pondok pesantren yang telah berdiri sejak sebelum belanda datang kenegeri ini untuk menjajah. Bersama perjalanannya yang sangat panjang mengabdikan diri untuk iman dan kecerdasan bangsa tidak terlepas dari berbagai ancama, tekanan dan hambatan. Akan tetapi hingga saat ini tetap exis berdiri ditengah-tengah bangsa melalui berbagai zaman.
            Pada zaman Jepang para guru swasta sebelum bisa mengajar di madrasah harus mendapat ijin dulu dari pemerintah. Hal ini dimaksudkan agar guru pengajar madrasah itu tidak menyebarkan bibit-bibit kebencian kepada pemerintah penjajah untuk melanggengkan kekuasaanya di negara ini.Bahkan kalau bisa mereka para guru madrasah akan dibuat alat untuk mengabadikan kekuasaan. Untuk mengalihkan simpati masyarakat kepada madrasah berbagai slogan dilontarkan baik melaui media dan seniman. “ Santri kotor dan terbelakang” itulah slogan mereka. Bahkan ada seorang penyair zaman itu menulis puisi yang pada salah satu baitnya menaruh kata”gigi santri bau karena tidak pernah disikat.
            Begitulah tantangan dan tekanan yang dialami madrasah menyertai keberadaannya. Dari masa kemasa tidak pernah terlepas dari hambatan. Di zaman orde baru kita kenal dengan adanya dikotomi kebijakan antara sekolah sebagai peninggalan belanda dan madrasah sebagai penjelmaan pesantren. Pada saat itu madrasah diperlakukan setengah hati oleh pemerintah. Pemerintah tidak menghendaki pendidikan islam sebagai lembaga pribumi berkembang menyaingi format pendidikan asing. Sebuah keberhasilan yang diraih pendidikan islam saat ini dengan adanya Surat Keputusan Tiga Mentri yaitu mentri dalam negri, mentri agama dan mentri pendidikan. Dengan surat keputusan tersebut maka pengakuan tehadap pendidikan islam semakin baik. Kalau dulu lulusan madrasah hanya bisa melanjutkan ke jenjang madrasah selanjutnya dan lulusannya sulit mendapat pekerjaan.. Mulai saat itu lulusan madrasah bisa melajutkan ke sekolah.
            Sampai saat ini hambatan dan tantangan pendidikan islam masih tetap terasa. Sebab menurut perinbangan pemerataan pendidikan  jumlah Sekolah Dasar Negri di setiap desa di kabupaten Sumenep minimal dua. Sedangkan jumlah Madrasah Ibtidaiyah Negri sekabupaten Sumenep hanya tiga. Yakni min Tarate, MIN Tanjung dan Min Kolor.Untuk mengimbangi kekurangan itu sejak dulu banyak bermunculan madrasah-madrasah swasta sehingga hampir menyamai jumlah Sekolah Dasar yang ada di Kabupaten Sumnep. Walaupun demikian tenaga edukasinya masih di bawah standar. Sebab utamanya di madrasah-madrasah ibtidaiyah swasta guru negrinya sangat sedikit. Kebanyakan  dari para pengajar di madrasah adalah para santri yang ingin mengamalkan ilmunya dengan suka rela. Tentunya metode penyampaiannya sambil mencari di tengah jalan. Mungkin karena terdorong oleh rasa ikhlash yang mendalam meskipun dengan tegnik yang sangat sederhana bisa juga menghasilkan ilmuwan-ilmuwan tangguh. Tapi hingga saat ini madrasah terus berbenah diri. Para tenaga eduksinya terus ditingkatkan dengan meningkatkan pendidikan mereka. Sehingga akhirnya banyak tenaga edukasi di madrasah yang menyandang gelar S1.
             Alahamdulillah saat ini dengan bergulirnya zaman dari orde baru ke reformasi perhatian pemerintah terhadap lembaga lebih meningkat. Salah satunya ada dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) atau Dana Bantuan Operasional Madrasah (BOM). Walaupun bantuan BOS/BOM itu masih disamaratakan baik Sekolah dan madrasah. Penyamarataan itu masih belum berarti rata. Sebab bantuan yang sama pada semua lembaga berakibat tidak rata jika tidak mempertimbangkan kondisi dan situasi yang melatar belakangi suatu lembaga. Sekolah yang rata-rata didirikan oleh Negara dengan tenaga edukasi yang lebih sehat jika mendapat bantuan yang sama dengan madrasah akan setingkat lebih gemuk dibandingkan dengan madrasah yang baik sarana dan tenaga edukasinya masih suka rela.
            Ketika era globalisasi menggaung maka sekolah lebih siap menyambut kedatangannya dibanding dengan madrasah yang masih terlihat berdiri agak kaku menatap masa depan. Sebab dari nominal bantuan yang diterima itu masih harus dipergunakan untuk memikirkan kesejahteraan para tenaga edukasinya. Masih untung jika kesejahteraan mereka ada dana pengimbang, walaupun syaratnya sangat elit sebab mereka harus mengisi fortopolio yang sangat rumit dengan segala macam perasyarat lainnya.
            Satu sisi era globalisasi menjadi tantangan berat buat madrasah. Sebab 1. penguasaan untuk mengoprasikan barang-barang hasil tehnologi canggih itu merupakan tuntutan zaman. .Mau tidak mau madrasah harus mendatangkan tegnisi atau mengikutsertakan tenaga edukasinya untuk ikut pelatihan sekaligus membeli alat-alat baru yang mahalnya bukan main. Sementara  kekayaan lembaga yang ada masih terbatas karena masih harus memikirkan kesejahteraan para gurunya. 2. Sementara zaman terus melaju tanpa memperhatikan situasi tempat yang akan dilaluinya. Sehingga tanpa bisa dicegah warnet telah berdiri menjamur di mana-mana. Mereka menawarkan jasa axess dengan anika berita yang menarik dengan bebas ruang dan waktu. 3 Karena masyarakat sudah menjadi konsument internet maka otomatis para siswa madrasah dan sekolah juga termasuk dalam bagiannya. Sehingga mereka para siswa lebih tahu ketimbang gurunya mengoperasikan dan mengakses informasi dari internet. 4. Masadrasah dengan keterbatasannya masih belum mampu mempersiapkan media internet kepada para siswanya. Maka para siswa akan kurang tertarik kepada format pembelajaran yang disuguhkan di madrasah. Karena menurut pandangan mereka bentuknya kurang menarik. Sehingga pelajaran keagamaan tidak menjadi idola lagi bagi mereka. Karena jiwa dan fikiran mereka sudah teracuni oleh materialisme dan gambar juga tayangan menarik yang mereka nikmati dalam internet. Maka cerita para tokoh islam yang biasanya ampuh membentuk karakter para siswa, saat ini sudah berkurang  kekeramatannya. 5 Karena para penawar jasa bidang internet adalah mereka para pebisnis maka yang menjadi visi dan misi utamanya adalah komersial bukan malah membantu keterbelakangan pendidikan. Dengan demikian maka moral dan pendidikan anak-anak madarasah tidak akan menjadi pertimbangan. Otomatis tidak ada kontrol bagi para siswa untuk membuka dan mengakses atau mendonlout permainan dan informasi yang tidak layak bagi usianya. Maka hal ini akan sangat membahayakan terhadap jiwanya yang pada gilirannya nanti akan menggerogoti imannya. Juga akan mempengaruhi fikiran mereka tentang nilai-nilai  agama dan sosial.
            Di sisi yang lain masyarakat memang membutuhkan alat canggih tersebut untuk lebih cepatnya transfer informasi. Dengan hadirnya alat alat baru super canggih ini maka satu tingkat kebudayaan manusia semakin meningkat. Sebab para manusia penghuni dunia ini sudah nyaris tidak terhalang oleh lamanya waktu dan jauhnya jarak. Dengan adanya hand phone saja famili yang jauh menjadi dekat. Mereka bisa berintraksi kapan saja mereka mau dengan biaya yang sangat murah.
Termasuk dalam dunia pendidikan kehadiran media cerdas dan canggih ini memang sangat menjadi kebutuhan. Sebab para guru tidak lagi sibuk mencari buku pegangan ke perpustakaan. Dengan membawa buku sedimikian tebal dan berat. Sementara jika membawa lap top hanya dengan satu tas agak kecil sudah mampu mengusung ribuan perpustakaan local dan interlokal. Subhanallah .! memang maha suci dzat sang maha pencipta yang sampai saat ini terus memberikan ketekunan kepada para manusia untuk terus berusaha mencari kemudahan-kemudahan hidup. Madrasah tidak boleh hanya memandang bahwa globalisasi sebagai perusak iman generasi muda. Akan tetapi juga harus memandang bahwa untuk kecerdsan ummat madrasah juga harus menganggap bahwa kehadiran globalisasi adalah hal yang harus dihadapi secara jantan. Tentunya dengan daya saring yang sangat tinggi. Disamping membekali para siswa dengan iman dan akhlakul karimah. Untuk itu para guru dan kepala madrasah menjadi tertuntut untuk lebih kreative lagi mengemas pembelajaran agama agar lebih menarik dari pada sebelumnya. Sehingga materi agama tetap menjadi idola para siswa juga tetap mampu mengoperasikan alat-alat canggih untuk mempermudah hajatnya. Di sini para praktisi pendidikan  madrasah diharap lebih piawai mengemas pembelajaran agama dengan tehnologi canggih.
            Pertanyaannya  adalah mampukah madrasah menkolaborasikan dua hal ini menjadi sinergifitas yang menghasilkan format baru dengan nilai jual yang tinggi ?. Atau malah mencabut subtansi pendirian (ruh) madrasah sehingga madrasah kehilangan identitas di

Tidak ada komentar:

Posting Komentar